*Syafa’at Seorang Sahabat*

 

Bismillah …

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang syafa’at di hari kiamat :

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka. Demi Allah Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.” Mereka memohon : “Wahai Tuhan ku mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa denganku, shalat dan juga haji”. Kemudian Allah memerintahkan kepada seorang yang mukmin itu untuk mengeluarkan saudaranya dari siksa api neraka”. (HR. Muslim)

Saudaraku,

Dari untaian hadis shohih diatas tentu menjadi renungan penting bagi kita yang saat ini menjalani hari-hari dengan orang-orang terdekat kita. Akankah kita yang menjadi jalan syafa’at kelak di Yaumil akhir untuk sahabat-sahabat kita ?  atau sebaliknya, merekalah  yang akan menyafa’ati kita ? Hanya ada dua pilihan ini, menyafa’ati atau disyafa’ati.

Bahkan Hasan Albashri pun memberikan amanah terkait hadis ini : “Perbanyaklah berteman dengan orang beriman, karena mereka akan menjadi syafa’at di hari kiamat”.

Aktivitas di maktab Hamasah harusnya menjadi tolak ukur kesuksesan bersama di akhirat nanti. Karena sudah sangat jelas visi kita mengantar pada pembentukan jati diri  yang mampu menyafa’ati sahabatnya. Mencetak para penghafal Al-Qur’an yang berakhlaqul Karimah adalah modal penting dalam sejarah hidup manusia.

Andai semua santri yang ada di maktab Hamasah ini mutqin 30 Juz dan akhlaknya mulia, apalagi gerangan yang kita khawatirkan ? Justru kita harus bangga dan penuh syukur karena mereka akan bersiap-siap mengepangkan sayapnya untuk amal ma’ruf nahi Munkar. 😊

Kita lihat bagaimana perjuangan  para santri saat ini yang sedang berproses saling support satu sama lain dalam segala amal kebaikan. Saling membangunkan di sepertiga malam, mengajak untuk makan sahur bersama, melakukan opsih harian, melatih fisik dengan olahraga bersama, mengingatkan jadwal shalat awal waktu berjama’ah di mesjid, saling menyemangati saat futur atau lalai dalam menghafal, saling memberikan tips dan lain sebagainya. Ini menjadi tanda akan hadirnya kesempatan mendapatkan syafa’at kelak di hari kiamat dari seorang sahabat yang kesehariannya mengingatkan kita kepada Allah dan aturan-aturan Allah.

Saudaraku,

Imam Ibnul Jauzi pun menasehatkan kepada sahabat-sahabatnya :

“Jika kalian tidak menemukan aku di Surga, maka tanyakan tentang aku kepada Allah. Ucapkan “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu Fulan dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau”, kemudian beliau menangis.

 

Wallahu a’lam bishowab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *